Keistimewaan Tatacara Ucapan Salam (Assalamualaikum).

Oleh : Sdr Drs Mohd Salleh Albakri,M.A bin Haji Mohd Tahir

ASSALAMUALAIKUM (Ar : as-salamu ‘alaikum = mudah-mudahan Allah melimpahkan kesejahteraan atas kamu). Merupakan suatu doa yang diucapkan oleh seseorang mukmin untuk orang mukmin lainnya yang dijumpai atau ditinggalkan (berpisah) yang mengandung permintaan ke hadrat Allah SWT agar orang yang dijumpai atau ditinggalkan tadi diberi keselamatan oleh Allah SWT. Istilah ini juga biasa disebut dengan istilah salam. Kata salam yang bermaksud selamat, sejahtera, aman, dan sentosa itu merupakan kata dasar (masdar) dari kata kerja salima-yaslamu yang masih serumpun dengan kata Islam (aslama-yuslimu).

Dalam Al-Qur’an terdapat sekitar 146 kata salam, baik dalam bentuk kata kerja mahupun kata benda, yang tersebar di beberapa surah dan ayat. Di antaranya ialah : salamun ‘alaikum (QS.6:54), fa sallimu (QS.24:61), dan wa as-salamu (QS.20:47).

Menurut hadis Nabi SAW dari Ibnu Mas’ud, as-salam adalah salah satu nama dari nama-nama Allah SWT dan diperintahkan untuk disebarluaskan agar orang yang menerimanya mendapatkan keselamatan dan kesejahteraan dari Zat as-salam (Yang Maha Sejahtera). Menurut hadis riwayat Bukhari dan Muslim, bunyi salam yang diajarkan oleh Allah SWT kepada Nabi Adam AS agar disampaikan kepada para malaikat adalah “assalamualaikum”. Para malaikat menjawab “as-salamu ‘alaika wa rahmat Allah (semoga Allah memberikan keselamatan, kesejahteraan dan rahmat-Nya kepadamu).”

Menurut hadis, bunyi kalimat salam ada tiga macam, iaitu (1) pendek, (2) sedang, dan (3) panjang. Ketiga salam itu adalah (1) assalamualaikum (mudah-mudahan Allah melimpahkan kesejahteraan atas kamu),(2) as-salamu ‘alaikum wa rahmat Allah (semoga Allah memberikan keselamatan, kesejahteraan dan rahmat-Nya kepadamu), dan (3) as-salamu ‘alaikum wa rahmat Allah wa barakatuh (semoga Allah memberikan keselamatan dan melimpahkan rahmat dan berkah-Nya ke atasmu). Semakin panjang bacaannya, semakin banyak pula pahala yang didapatkan (HR. Abu Dawud dan at-Tarmizi).

Para ulama sependapat bahawa hukum memberi salam adalah sunah mu’akkad (sunah yang diutamakan), yang pahalanya lebih besar daripada sunah biasa. Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT dalam surah al-An’am ayat 54 yang bermaksud: “Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah salamun ‘alaikum (mudah-mudahan Allah melimpahkan kesejahteraan atas kamu)…”

Hukum menjawab salam adalah wajib. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT dalam surah an-Nisa’ ayat 86 yang bermaksud : “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan yang lebih baik daripadanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah selalu membuat perhitungan atas tiap-tiap sesuatu.”

Seseorang mukmin yang tidak mengucapkan salam ketika berjumpa dengan orang mukmin lainnya, tatkala masuk ke rumah atau ketika meninggalkannya dipandang belum memenuhi tata cara ajaran Islam. Walaupun perbuatan tidak memberi salam itu tidak sampai mendatangkan dosa, tetapi orang yang mengabaikannya itu termasuk orang yang perlu diingatkan. Dalam suatu hadis diriwayatkan bahawa pernah terjadi seseorang sahabat Rasulullah SAW bernama Kildah bin Hanbali berkunjung ke rumah Nabi SAW tanpa mengucapkan salam. Rasulullah SAW menegurnya dengan berkata: “Kembalilah, dan ucapkan salam lebih dahulu dan kemudian tanyakan apa boleh masuk langsung ke dalam rumah” (HR. at-Tirmizi).

Tata cara memberi salam antara satu orang atau kelompok orang mukmin lainnya diatur dalam hadis Nabi SAW dari Abu Hurairah RA. Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Hendaklah (terlebih dahulu) memberi salam : (1) orang muda terhadap yang lebih tua, (2) orang yang berjalan terhadap orang yang duduk, (3) orang yang jumlahnya sedikit kepada orang yang ramai, dan (4) orang yang naik kenderaan kepada orang yang berjalan kaki (hadis muttafaq ‘alaih). Dalam hadis riwayat Ahmad dan al-Baihaki dari Ali bin Abi Talib RA dikatakan bahawa Rasullullah SAW bersabda : “Sekelompok orang bila lalu cukup satu orang sahaja yang memberi salam, dan satu orang sahaja yang menjawab.”

Ucapan assalamualaikum itu pada dasarnya hanya diperuntukkan bagi orang mukmin (muslim). Menurut sebahagian ulama, salam tidak diperbolehkan ditujukan kepada orang non-Islam, terutama Yahudi dan Nasrani. Hal ini berdasarkan hadis-hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah. Rasulullah bersabda: “Janganlah kamu mulai memberi salam kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani.” Selain itu dalam sahihain (hadis sahih menurut Bukhari dan Muslim) yang diangkat dari Anas dikatakan: Apabila ahli kitab memberi salam kepadamu, maka katakanlah : dan atas kamu”.

Dalam sejarah, Rasulullah SAW juga tidak pernah menyampaikan ucapan salam kepada orang non-muslim. Dalam surat-surat yang dikirimkan kepada raja-raja negara tetangganya untuk mengajak mereka memeluk Islam, dalam pembukaan surat Nabi SAW selalu menggunakan kata salamun ‘ala man ittaba’a al-huda (keselamatan semoga dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk)-HR Bukhari dan Muslim.

Adapun saat-saat yang tepat untuk menyampaikan salam kepada orang atau kelompok orang lain adalah sebagai berikut: (1) pada saat terjadi pertemuan, (2) pada saat memasuki dan meninggalkan majlis pertemuan, (3) pada saat hendak masuk ke rumah, (4) pada saat hendak masuk ke perkuburan, dan (5) pada saat hendak menjumpai isteri untuk melakukan hubungan badan (jimak). Pada saat mahu memasuki rumah orang lain (yang bukan miliknya), seseorang mukmin mesti mengucapkan salam dan mendapatkan izin dari pemiliknya terlebih dahulu sebelum masuk. Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT yang bermaksud :”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumah kamu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya..”(QS.24:27).

Mudah-mudah ianya menjadi renungan kita bersama bagaimana tata cara yang betul ketika hendak berintraksi sesama muslim dengan mengetahui tentang keistimewaan tata cara ucapan salam sebagaimana yang diajarkan Al-Qur’an dan hadis. Memandangkan situasi dan kondisi keistimewaan ucapan salam sering tidak dihayati dan silap dipraktikkan sebagaimana semestinya dalam pertemuan seharian sesama muslim yang menimbulkan budaya yang cukup liar kerana tidak tahu tata cara keistimewaan ucapan salam dan sering terlepas pandang apa yang digariskan oleh ajaran Islam yang unik tersebut, amin.Wasalam warah matullah wabarakatuh.

Disediakan oleh :
Sdr Drs Mohd Salleh Albakri, M.A bin Haji Mohd Tahir
Setiasusaha Abim Kuantan
Mantan Ketua Komisaris Mahasiswa Pemikiran Moderan Dalam Islam, Program Pascasarjan IAIN Sulthan Syarif Qasim, Indonesia (2000-2002).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s